Kebijakan Trump yang menaikkan tarif impor di beberapa negara juga berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia. Ternyata kebijakan ini juga berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah yang melemah dalam beberapa minggu terakhir.
Saat ini, nilai tukar rupiah bahkan telah mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Angka ini hampir melampaui puncak krisis moneter pada tahun 1998. Bahkan jika dibandingkan dengan pandemi Covid 2020, nilai tukar rupiah hari ini lebih lemah. Sehingga sektor industri yang melakukan ekspor dan impor di Indonesia akan mendapatkan dampak yang cukup signifikan termasuk pada perusahaan ini, PT Benteng Mas Persada.

Dampak yang paling mungkin terjadi dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap industri adalah harga pokok produksi (HPP) akan naik karena bahan baku atau mesin yang diimpor akan menjadi lebih mahal. Akibatnya, harga jual produk dalam negeri menjadi lebih mahal dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor industri.
Selain itu, ada juga dampak positif dari penurunan nilai tukar rupiah, yang berarti produk jadi menjadi lebih murah bagi konsumen luar negeri sehingga dapat meningkatkan angka ekspor.
Selain itu, peristiwa ini berdampak pada sektor industri yang memiliki pasar di AS karena jatuhnya nilai rupiah menyebabkan tarif impor naik. Kenaikan tarif impor menyebabkan calon pembeli membatalkan pembelian mereka.
Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang dapat digunakan oleh PT Benteng Mas Persada untuk menghindari dampak-dampak tersebut. Mulai dari mengurangi impor dan menggunakan bahan baku dari dalam negeri, memperkuat kerja sama di pasar luar negeri yang sudah ada, menjajaki negara pasar non tradisional, memanfaatkan media sosial dan website perusahaan, membangun relasi dengan agen pemasaran lokal di negara pengekspor, hingga berpartisipasi dalam pameran perdagangan internasional.
Salah satu strategi yang telah dilakukan oleh PT Benteng Mas Persada adalah berpartisipasi dalam Pameran Dagang Internasional pada tahun 2024 dan APAS SHOW BRAZIL 2024. Selain itu, juga berhasil mengekspor ke beberapa negara di pasar non-tradisional seperti Qatar, Guyana, dan Tahiti pada periode 2023 hingga 2025. Sehingga strategi yang telah dilakukan dapat meminimalisir kemungkinan dampak yang akan terjadi pada perusahaan.